Menghidupkan Kembali Abu Sade: Evaluasi Total Mitigasi Kebakaran di Kawasan Warisan Budaya
![]() |
| Keterangan : kebakaran yang terjadi di desa Sade, sumber poto: tribunlombok |
Oleh : Nurlaela Putriyasari
Kebakaran hebat yang menghanguskan sedikitnya 120 unit rumah di Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Lombok Tengah, pada Sabtu malam (22/8/2026) bukan sekadar bencana lokal. Peristiwa ini adalah sebuah tragedi kebudayaan nasional. Dalam satu malam, dokumen hidup peradaban Suku Sasak yang telah bertahan ratusan tahun lenyap menjadi abu.
Kesaksian memilukan dari warga seperti Amaq Imi, yang kehilangan seluruh harta benda termasuk kain tenun khas hasil jerih payahnya, mengonfirmasi satu hal: kita kembali gagap dalam melindungi manusia dan warisan sejarah yang kita agung-agungkan sebagai komoditas pariwisata.Karakteristik rumah adat Sade yang memanfaatkan atap jerami, dinding bedek (anyaman bambu), dan struktur kayu—memang memiliki nilai estetika dan filosofi tinggi.
Namun, secara sains bangunan, material alami yang mengering ini adalah bahan bakar tingkat tinggi. Ketika percikan api muncul, entah akibat korsleting listrik ataupun kelalaian lainnya, struktur perkampungan yang padat langsung menciptakan efek domino kebakaran yang mustahil dijinakkan dengan alat seadanya. Ironisnya, sebagai destinasi super prioritas penunjang kawasan Mandalika, Sade tidak memiliki sistem pertahanan mandiri yang mampu meredam api pada menit-menit pertama kejadian. Mengandalkan mobil pemadam yang harus menembus kemacetan Jalan Raya Sengkol-Mandalika adalah bentuk kegagalan manajemen risiko yang fatal.
Akar masalah dari berulangnya kebakaran di kampung-kampung adat di Indonesia (seperti yang pernah menimpa Kampung Tarung di Sumba atau Kampung adat di Flores) adalah cara pandang kita yang bias. Kita sering kali hanya menikmati keindahan visual kampung adat tanpa memikirkan kelayakan dan keamanan infrastruktur di dalamnya. Modernisasi, seperti masuknya arus listrik dan penggunaan gawai oleh warga, sering kali dipasang tanpa adanya standardisasi keamanan yang ketat untuk bangunan bermaterial kayu dan jerami.
Solusi Komprehensif dan BerkelanjutanUntuk membangun kembali Sade dari puing-puing abu tanpa menghilangkan nilai sakralnya, diperlukan rekonstruksi total yang berbasis pada mitigasi bencana modern. Berikut adalah jalan keluar yang harus segera diambil oleh Pemerintah Daerah NTB, Kementerian Pariwisata, dan masyarakat adat:
1. Rekonstruksi Struktur dengan Material Tahan Api TerselubungMembangun kembali Sade harus mempertahankan bentuk aslinya, namun dengan sentuhan teknologi material. Cairan Fire Retardant: Jerami dan bambu yang akan digunakan untuk pembangunan ulang wajib dilapisi dengan cairan kimia penghambat api (fire retardant). Cairan ini tidak mengubah warna dan tekstur bahan, namun membuat material organik tidak mudah tersulut api. Sekat Api Lingkungan (Firewall Break): Dalam tata ruang yang baru, harus dibuat jarak aman atau dinding pembatas berbahan batu alam/bata tersembunyi di antara kelompok rumah. Hal ini berfungsi memutus jalur penjalaran api agar kebakaran di satu rumah tidak menjalar ke ratusan rumah lainnya.
2.Standardisasi dan Re-engineering Instalasi ListrikArus pendek kerap menjadi kambing hitam kebakaran di pemukiman padat. Kabel Berlapis Baja (Armored Cable): Seluruh jaringan listrik di dalam rumah jerami wajib menggunakan kabel pelindung khusus yang tidak mudah terkelupas oleh panas atau gigitan tikus.Sistem Smart Breaker: Pemasangan sekring otomatis sensitif yang langsung memutus aliran listrik begitu mendeteksi adanya lonjakan beban atau panas berlebih pada jaringan kabel kampung.
3. Pembangunan Sistem Hidran Mandiri dan Tandon Air Bawah TanahSade tidak boleh lagi bergantung sepenuhnya pada kedatangan mobil pemadam kebakaran dari luar kota.Jaringan Hidran Kampung: Pemerintah harus membangun jaringan pipa air bertekanan tinggi (hidran) di beberapa titik strategis di dalam kampung adat. Tandon Air Darurat: Menyediakan tandon air bawah tanah berkapasitas besar yang terintegrasi dengan pompa genset, sehingga jika listrik padam, pasokan air untuk memadamkan api tetap tersedia secara mandiri.
4.Pembentukan Sistem Keamanan Kebakaran Berbasis Komunitas (SKKB)Teknologi tidak akan berguna tanpa kesiapan manusia sebagai penggunanya. Kader Pemadam Adat: Melatih pemuda lokal Sade menjadi tim respons cepat penanganan kebakaran. Mereka harus dibekali pengetahuan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang diletakkan di setiap teras rumah adat.Sistem Ronda dan Kentongan Digital: Mengaktifkan kembali sistem jaga malam tradisional yang dikombinasikan dengan sensor asap (smoke detector) bertenaga baterai di setiap rumah.
5.Asuransi Komunal dan Pemulihan Ekonomi PengrajinKehilangan kain tenun adalah kehilangan modal kerja. Ke depan, pemerintah harus memfasilitasi asuransi mikro komunal untuk melindungi aset budaya dan alat produksi warga. Saat bencana terjadi, para pengrajin seperti Amaq Imi bisa langsung mendapatkan modal darurat untuk menenun kembali tanpa harus jatuh miskin.
Kesimpulan Membangun kembali Kampung Adat Sade adalah pembuktian sejauh mana kita menghargai identitas bangsa. Kita tidak boleh sekadar membangun replika fisik yang rapuh, lalu membiarkan warga Sade hidup dalam ancaman bahaya yang sama di masa depan. Menikahkan kearifan lokal arsitektur Sasak dengan teknologi keselamatan modern adalah satu-satunya jalan rasional. Dengan cara ini, Sade dapat lahir kembali sebagai kampung adat yang tidak hanya eksotis secara budaya, tetapi juga tangguh dan aman bagi manusia yang merawatnya.(HM-1)

