Merajut Asa di Tanah Terbelah: Kisah Pengungsi NTT Memeluk Badai Gempa

 

Keterangan : Peta geografis NTT, sumber BMKG.go.id

Oleh : Nurlaela Putriyasari 

Flores | Halo Mandalika — Malam belum sepenuhnya larut di utara Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, bagi Maria Goreti (42), tidur nyenyak telah menjadi kemewahan yang terenggut sejak pertengahan Agustus 2026. Di bawah tenda terpal biru yang riuh diguncang angin malam, ia memeluk erat anak bungsunya. Saban beberapa jam sekali, bumi di bawah alas tidurnya kembali bergetar, mengingatkannya pada petaka yang menghancurkan rumahnya. Flores, (22/08/2026)

"Setiap kali tanah bergoyang, jantung saya rasanya mau copot," bisik Maria dengan mata lelah. Maria adalah satu dari 150.576 jiwa yang kini terpaksa mengungsi setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 meremukkan sebagian wilayah Flores Barat hingga Timur. Gempa tektonik itu tidak datang lalu pergi. Ia meninggalkan "ekor panjang" berupa trauma yang terus memborbardir psikologis warga.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, hingga akhir pekan ini, bumi Flores telah diguncang lebih dari 4.200 kali gempa susulan. Angka yang fantastis bagi para ilmuwan, namun mengerikan bagi warga yang menjalaninya secara langsung. Fenomena aktivitas Flores Back-arc Thrust ini membuat alam NTT seperti enggan untuk tenang.

Malam-Malam Penuh Guncangan

Bagi para pengungsi, menghitung hari berarti menghitung getaran. Pola gempa susulan di NTT kali ini terbilang aneh dan kompleks. Pada hari-hari pertama, frekuensi gempa sempat menurun, memberikan harapan palsu bagi warga. Namun pada hari keenam, bumi kembali mengamuk dengan 802 kali guncangan dalam sehari.

Rentetan gempa bermagnitudo di atas 5,0 bahkan sempat memicu longsoran baru dan meruntuhkan jembatan yang tersisa. Dinamika ini memaksa para relawan dan petugas bekerja ekstra keras dalam ketidakpastian.

Tidak hanya rumah yang hancur, ruang kelas tempat anak-anak Flores merajut mimpi kini rata dengan tanah. Di beberapa posko, pemandangan anak-anak belajar di dalam Temporary Learning Space atau ruang belajar darurat menjadi pemandangan yang menyentuh hati. Sambil memegang buku komik dan alat tulis bantuan, riuh tawa bocah-bocah ini sesekali mengalahkan kecemasan orang dewasa. Mereka menolak kalah dari bencana.

Berbagi Ruang, Berbagi Nyawa

Di tengah keterbatasan, solidaritas kemanusiaan justru tumbuh subur di NTT. Di posko pengungsian Kabupaten Manggarai—wilayah barat yang kini menjadi pusat baru berkumpulnya gempa susulan—warga saling berbagi makanan seadanya.

Dapur umum mandiri didirikan oleh warga yang rumahnya selamat untuk menyuplai mereka yang kehilangan segalanya. Pemerintah pusat pun mulai mengucurkan dana stimulan hingga Rp30 juta untuk perbaikan rumah rusak berat, memberikan secercah harapan bagi warga untuk kembali pulang suatu hari nanti.

"Rumah boleh roboh, tapi tatanan hidup kami tidak boleh runtuh," ujar Stefanus (51), seorang tokoh masyarakat setempat yang sibuk membagikan logistik. Menanti Bumi Menepati Janjinya

Para ahli BMKG memprediksi rangkaian gempa susulan ini masih akan menggoyang Flores hingga tiga sampai empat minggu ke depan. Artinya, masyarakat NTT masih harus memeluk badai ini sedikit lebih lama. Mereka diimbau untuk tetap menjauhi bangunan retak dan selalu memperbarui informasi dari kanal resmi demi menghindari berita bohong (hoax).

Hingga saat itu tiba, tenda-tenda plastik beratap langit Flores akan tetap menjadi saksi bisu keteguhan hati manusia-manusia NTT. Mereka yang hari ini tidur berteman gempa, namun besok pagi tetap terbangun dengan senyum untuk kembali menata kehidupan.(HM-1)