Perluas Akses Disabilitas, Kemenkes Bersama WVI dan IFI Hadirkan Layanan Rehabilitasi Digital di Lombok
![]() |
| Keterangan : Tim Wahana Visi Indonesia (WVI) dan Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) meluncurkan program perluasan layanan rehabilitasi digital, sumber halomandalika |
Lombok Timur | Halo Mandalika – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) bersinergi dengan Wahana Visi Indonesia (WVI) dan Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) meluncurkan program perluasan layanan rehabilitasi digital. Program ini menyasar sejumlah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di wilayah Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur pada Sabtu (17/10/2026).
Kolaborasi lintas sektor ini bertujuan utama untuk mendekatkan pelayanan rehabilitasi bagi penyandang disabilitas, khususnya anak-anak yang mengalami hambatan tumbuh kembang. Melalui pendekatan berbagi tugas (task sharing) dan integrasi teknologi digital, hambatan geografis serta keterbatasan tenaga ahli di daerah diharapkan dapat teratasi.
Optimalisasi Teknologi dan Pembagian Tugas Program yang dijadwalkan berlangsung sepanjang September hingga November 2026 ini menerapkan metode On-the-Job Training (OJT). Melalui pelatihan ini, petugas puskesmas dan kader kesehatan dididik untuk mendampingi pasien sesuai kapasitas mereka, dengan supervisi langsung dari tenaga keterapian fisik.
Keterbatasan jarak dijembatani oleh pemanfaatan teknologi digital melalui dua fitur utama Telekonseling Layanan konsultasi daring yang menghubungkan pihak keluarga dan petugas puskesmas secara langsung dengan tenaga ahli rehabilitasi. Tele-exercise Penyediaan panduan latihan berbasis video terarah yang dapat dipelajari dan dipraktikkan ulang oleh orang tua di rumah.
![]() |
| Keterangan : Tim sedang persiapan simulasi Disabilitas terdampak, sumber halomandalika |
Bagi balita yang mengalami indikasi keterlambatan perkembangan, petugas puskesmas akan membantu melakukan identifikasi awal, memfasilitasi rujukan jika diperlukan, serta memantau perkembangan latihan fungsional anak secara berkala.
Penguatan Kapasitas SDM dan Fasilitas Ramah Disabilitas
Senada dengan hal tersebut Kepala Puskesmas Pringgabaya, Gupron, A.Md. Kep, menekankan bahwa, program ini menaruh perhatian besar pada aspek deteksi dini. Tenaga kesehatan dibekali kemampuan membaca tanda-tanda keterlambatan tumbuh kembang agar intervensi dapat diberikan secepat mungkin.
"Tahapan berikutnya mencakup penerapan task sharing serta penguatan layanan rehabilitasi. Tenaga profesional seperti fisioterapis, terapis wicara, dan terapis okupasi berperan memberikan pendampingan dan berbagi pengetahuan dengan petugas Puskesmas Pringgabaya," ujar Gupron.
![]() |
| Keterangan : contoh Simulasi bagi anak disabilitas, sumber halomandalika |
Sebagai bagian dari proyek percontohan, para tenaga terapis tersebut direncanakan akan ditempatkan di lokasi selama empat hingga enam bulan guna mematangkan kesiapan petugas setempat.
Selain kesiapan teknologi dan SDM, layanan kesehatan ini juga didorong untuk berbenah secara infrastruktur fisik. Puskesmas diarahkan untuk menyediakan fasilitas ramah disabilitas, seperti jalur landai (ramp) untuk pengguna kursi roda, area parkir khusus yang mudah diakses, jalur penyelamatan yang aman, serta penerapan sistem antrean prioritas bagi pasien berkebutuhan khusus.
Menjaga Keberlanjutan Program Inisiatif rehabilitasi digital ini diharapkan tidak berhenti sebagai program temporer, melainkan diadopsi menjadi layanan rutin di Puskesmas. Namun, keberlanjutan jangka panjangnya diakui membutuhkan komitmen kuat dari Kemenkes, WVI, IFI, pemerintah daerah, hingga pihak puskesmas itu sendiri.
Investasi berkelanjutan pada aspek kesiapan tenaga pendamping, penyediaan akses aplikasi dan jaringan internet yang stabil, serta kejelasan pembiayaan menjadi faktor kunci yang akan dievaluasi untuk pengembangan layanan di masa mendatang.(HM-1)



