Gencar! Dikes Lotim Targetkan TBC Pra Tahun 2030 Ambil Langkah Skrining Kesehatan Masal

Keterangan : Skrining Kesehatan Massal di Kantor Desa Aikmel
Lombok Timur | Halo Mandalika– Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Timur mengambil langkah agresif untuk mengejar target eliminasi Tuberkulosis (TBC) sebelum tahun 2030. Pada Rabu, 15 Juli 2026
Dikes Lombok Timur menggelar kegiatan tracing dan skrining kesehatan massal secara terintegrasi yang dipusatkan di Kantor Desa Aikmel, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur.
Kegiatan jemput bola ini dipantau langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Ns. H. L. Aries Fahrozi, S.Kep., M.Kep., didampingi oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dikes Lombok Timur, Sahid Radhan.
Kabid P2P Dikes Lombok Timur, Sahid Radhan, mengungkapkan bahwa akselerasi melalui metode tracing (pelacakan kontak) di tingkat desa seperti di Aikmel hari ini sangat krusial dilakukan. Pasalnya, angka penemuan kasus baru TBC di Lombok Timur sepanjang semester pertama tahun 2026 masih berada di bawah target yang ditetapkan.
"Hingga bulan Juni 2026 berjalan ini, tercatat ada 984 kasus baru TBC yang ditemukan di Lombok Timur. Angka 984 kasus ini sebenarnya masih di bawah target pertengahan tahun kita yang seharusnya menyasar dari total target tahunan sekitar 3.000 sekian kasus," ujar Sahid Radhan saat memberikan keterangan di lokasi kegiatan, Rabu (15/7/2026).
Sahid menjelaskan, melalui strategi penekanan skrining (pressure tracing) di lapangan, pemerintah berharap angka penemuan kasus di tengah masyarakat bisa melonjak tajam. Penemuan dini dinilai menjadi kunci utama agar rantai penularan dapat diputus dengan cepat.
"Harapan kita, seluruh keluarga yang anggotanya menderita TB—baik mereka yang menjadi kontak erat, kontak serumah, maupun warga yang sudah bergejala—semuanya mau melakukan pemeriksaan hari ini. Dengan pemeriksaan terintegrasi seperti ini, penemuan kasus kita akan lebih tinggi, sehingga kita bisa secepatnya melakukan pengobatan agar target eliminasi TB di Kabupaten Lombok Timur tahun 2030 bisa tercapai," tegasnya.
Tantangan Pengobatan Antivirus dan Kasus Kematian. Selain fokus pada penyakit TBC, Sahid Radhan juga memaparkan realita penanganan penyakit menular lainnya di Lombok Timur yang menggunakan terapi antivirus.
Ia mengakui bahwa efektivitas pengobatan sangat bergantung pada kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan dan sarana prasarana penunjang di lapangan.
Berdasarkan data evaluasi Dikes, tercatat ada 3 kasus kematian pada tahun 2025 akibat infeksi virus menular tersebut. Sementara itu, sepanjang tahun 2026 berjalan, tim medis terus berupaya menekan fatalitas pada kasus-kasus baru yang ditemukan.
"Konsep utama dari pemberian obat antivirus ini adalah memperlambat aktivitas virus bekerja di dalam tubuh penderita. Dengan menekan replikasi virus tersebut, kita dapat memperpanjang usia hidup dan meningkatkan kualitas hidup si penderita. Namun, keberhasilan pengobatan ini memang memiliki beberapa persyaratan ketat terkait kesiapan sdm medis kita dan ketersediaan prasarana yang lainnya," urai Sahid.
Hingga Rabu sore, pelaksanaan skrining massal di Kantor Desa Aikmel berjalan lancar dengan antusiasme tinggi dari warga. Tim medis dari puskesmas setempat berhasil menjaring puluhan warga kontak erat. Dari pemeriksaan tersebut, ditemukan dua warga yang terdeteksi sugestif (mengarah pada gejala klinis) TBC, yang langsung dirujuk untuk menjalani Tes Cepat Molekuler (TCM).
Dikes Lombok Timur kembali mengingatkan masyarakat agar tidak takut memeriksakan diri. Seluruh rangkaian pengobatan TBC dipastikan gratis total dan ditanggung penuh oleh pemerintah hingga pasien dinyatakan sembuh. (HM-1)
