Biografi Sheentya Puspita, S.S.T
![]() |
| Keterangan : Sheentya Puspita, S.S.T, sumber halomandalika.com |
Orientasi
Bagi masyarakat Pohgading dan Batuyang, nama Sheentya Puspita, S.S.T. bukanlah nama yang asing. Perempuan yang akrab disapa Sintya atau Cing ini merupakan salah satu putri terbaik daerah yang mendedikasikan hidupnya di dunia kesehatan. Lahir di Selong pada 3 September 1991, Sintya adalah anak ketiga dari pasangan Ir. Abdul Azis—seorang tokoh masyarakat yang dihormati dan Khadijah.
Sejak kecil, Sintya dikenal sebagai sosok yang cerdas dan selalu mengukir prestasi gemilang di bidang akademik. Karakter pribadinya yang sederhana juga tecerat dari keputusannya mengubah nama resmi dari Sheentya Puspitasari menjadi Sheentya Puspita, semata-mata agar orang lain tidak kesulitan saat memanggil namanya.
Perjalanan Pendidikan dan Karier
Sintya mengawali langkah pendidikannya di SDN 1 Pohgading pada tahun 1999. Setamat SD, ia melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 1 Pringgabaya dan lulus pada tahun 2006. Di tahun yang sama, ia diterima di SMA Negeri 1 Aikmel dengan mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 2008.
Didorong oleh rasa kemanusiaan yang tinggi, Sintya memilih merantau ke Yogyakarta untuk mendalami ilmu kebidanan di STIKES 'Aisyiyah. Selama tinggal di kawasan dekat Malioboro, ia dikenal sebagai mahasiswi yang sangat menonjol, cekatan dalam praktik persalinan, dan selalu meraih nilai teratas. Pada 2 Mei 2012, ia berhasil lulus tepat waktu, mengangkat Sumpah Bidan, dan resmi menyandang gelar Sarjana Sains Terapan (S.S.T.).
Berbekal ilmu dari tanah rantau, Sintya memilih pulang untuk mengabdi di kampung halamannya. Ia langsung mendedikasikan dirinya sebagai bidan di Puskesmas Batuyang. Di sinilah kiprah nyata Sintya di dunia kesehatan diuji dan terbukti. Di usianya yang masih sangat muda, ia berhasil menjadi sosok tenaga medis yang diandalkan karena kecerdasan, ketulusan, dan prestasinya yang selalu unggul dalam melayani masyarakat.
Perjuangan Terakhir dan Akhir Hayat
Perjalanan hidup Sintya mencapai fase paling mengharukan saat ia berjuang menghadapi ujian kesehatannya sendiri. Tepat dua bulan sebelum kepergiannya, ia melahirkan buah hatinya melalui operasi caesar di Rumah Sakit Kuncup Bunga, Sawing, Selong. Pasca-persalinan tersebut, kondisi fisiknya terus menurun dan ia sering sakit-sakitan.
Tepat saat sang bayi genap berusia dua bulan, kondisi Sintya memburuk secara mendadak. Ia segera dilarikan ke Puskesmas Batuyang—tempat yang selama ini menjadi saksi bisu pengabdiannya menolong sesama. Namun, takdir Tuhan tidak ada yang bisa menolak. Di tempat tugasnya itu, Sintya dinyatakan telah mengembuskan napas terakhirnya.
Sheentya Puspita wafat dalam usia yang masih sangat muda, yaitu 35 tahun, pada tanggal 15 Mei 2026. Kepergiannya yang begitu tiba-tiba meninggalkan duka yang teramat mendalam. Banyak kerabat, rekan sejawat, dan masyarakat yang masih tidak percaya bahwa bidan yang ramah ini telah tiada. Jenazahnya kemudian dimakamkan dengan penuh penghormatan di TPU Batuyang, Lombok Timur.
Reorientasi
Meski raganya telah tiada, sosok Sheentya Puspita tetap hidup dan melekat erat di hati masyarakat Pohgading dan Batuyang. Keteguhannya dalam mengejar impian, baktinya yang luar biasa sebagai seorang ibu dan bidan, serta sifatnya yang selalu membanggakan kedua orang tua adalah warisan terbaik yang ia tinggalkan. Perjalanan hidup Sintya adalah sebuah inspirasi nyata bagi generasi muda tentang arti sebuah dedikasi, kerja keras, dan ketulusan.

