Retorika Pamit di Gili Lebur : Jejak Persahabatan Abadi yang Berpulang dalam Sunyi
![]() |
| Keterangan : Pantai Gili Lebur, Labuhan Lombok |
Oleh : Nurlaela Putriyasari
Lombok Timur | Halo Mandalika — Angin laut di Gili Lebur, Labuhan Lombok, berembus membawa ketenangan yang semu pada suatu siang di bulan Mei 2025. Di pesisir yang tak jauh dari tempatnya mengabdi di Puskesmas Labuhan Lombok, seorang wanita duduk merayakan hari kelahiran sahabat karibnya.
Pertemuan yang semula diwarnai kehangatan dan tawa itu perlahan bergeser menjadi sebuah ruang kontemplasi mendalam melahirkan bait-bait kalimat yang kelak disadari sebagai sebuah isyarat pamit dari sang belahan jiwa.
"Sob, aku sudah lelah bekerja. Ingin rasanya beristirahat, sungguh melelahkan. Nikmat bisa ke luar kota terus, jadinya bisa enjoy. Kalau aku tertekan, diam kerja di kantoran saja seharian," ucap sapaan akrabnya dengan nada lirih kala itu.
Bagi sang sahabat, untaian kalimat itu terasa sangat janggal dan menghentak sanubari. Sejak masa sekolah hingga menapak dunia kerja, ia adalah sosok pemantik semangat yang paling vokal. Dialah pelindung dan pendukung nomor satu yang selalu menginginkan sahabatnya merengkuh kesuksesan.
"Kenapa sekarang ia berbicara seperti ini? Padahal dari dulu dia selalu mendukungku agar aku sukses," tanya sang sahabat di dalam hati, dirundung keheranan atas perubahan pola pikir itu.
Mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, pertanyaan itu pun dilemparkan kembali, "Sebenarnya side kenapa, Sob? Kenapa bisa bilang begitu?"
Ia hanya tersenyum tipis, menyimpan beban yang tak sepenuhnya terucap. "Ya lelah saja, Sob. Sudah gaji kecil, tekanan pekerjaan setiap hari. Ya sudah, Sob, aku pulang dulu mau mengambilkan Kak Yani bayar obat sekaligus transfer," ujarnya. Sebelum melangkah pergi meninggalkan Gili Lebur, ia menatap sahabatnya dan berpesan dengan nada yang sangat lembut, "Sampai jumpa kembali ya, Sob. Hati-hati di jalan."ucapnya
Pertemuan siang itu menyisakan teka-teki. Sang sahabat yang saat itu masih bergelut di industri properti melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi rumah nasabah dengan pikiran yang terus berkecamuk, mempertanyakan makna di balik keluh kesah nya.
Janji Tinggal di Lombok Timur
Seminggu berselang, sebuah permintaan kembali terlontar dari bibir Dy. Kali ini, permintaannya terdengar seperti sebuah permohonan agar jarak tidak lagi memisahkan mereka.
"Sob, sapaan akrabnya sekarang diam sudah di Lombok Timur (Lotim) kerja, biar setiap hari berjumpa agar sahabat nya sering ke rumah. Kalau mau melamar kerja lagi, ambil yang di Lotim saja ya. Soalnya aku tidak mau kehilangan lagi. Dulu waktu side menikah, kabur lama sekali kita tidak bisa ketemu, apalagi komunikasi karena kondisi side. Jadi aku tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya, Sob," tuturnya terbuka.
Mendengar ketakutan yang jujur dari sosok yang begitu disayanginya, sang sahabat memilih menepikan ego. Segala keputusan karier diarahkan untuk tetap bertahan di Lombok Timur. Di dalam hati, ia membatin bahwa menuruti keinginan nya adalah pilihan terbaik saat itu, meski tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi masih terus menggelayut.
Bagi sang sahabat, ia adalah permata yang langka. Terlahir dari keluarga yang sangat memuliakan dan "meratukannya", sang sahabat pun berkomitmen untuk memberikan perlakuan istimewa yang sama kepadanya. Hubungan mereka bukan sekadar pertemanan biasa, ia dan keluarganya adalah orang-orang berhati emas. Ia memiliki peran yang teramat besar dalam mengubah garis hidup sang sahabat, menuntunnya, hingga ia bisa memiliki kehidupan yang jauh lebih baik seperti sekarang.
Firasat yang Mengetuk Pintu Takdir
Waktu bergulir hingga menembus awal tahun 2026. Pada bulan Januari, ia menghubungi sahabatnya, meminta bantuan untuk mengurus akta kelahiran sebagai salah satu syarat administrasi pendaftaran P3K. Tanpa menunda, tugas itu diselesaikan dengan tuntas sebagai bentuk bakti seorang sahabat.
Memasuki bulan Februari, keduanya kembali bertemu, merajut cerita dan berbagi tawa seperti biasa. Hingga akhirnya takdir membawa mereka pada pertengahan bulan Maret, di balik keheningan malam bulan Ramadan. Sang sahabat datang menjenguk nya yang baru saja melewati perjuangan besar melahirkan buah hatinya.
Dalam pertemuan di masa nifas itu, ia mengutarakan sebuah keinginan. Ia meminta dibelikan baju Lebaran berupa gamis dan kemeja. Sebuah penundaan kecil yang manusiawi terjadi. Sang sahabat mengusulkan agar pakaian baru tersebut dibeli bersamaan saat Iduladha tiba agar mereka bisa mengenakannya serasi bersama-sama.
Namun, ia menolak usulan itu. "Kelamaan, soalnya aku mau cepat pakai," katanya. Sang sahabat tetap pada rencananya untuk membelikannya nanti menjelang Idul adha sebuah keputusan kecil yang kelak menyisakan rasa sesal yang mendalam di dada, karena ia sama sekali tidak tahu bahwa waktu mereka bersama sudah sangat singkat.
Tak lama setelah momentum Lebaran usai dan kondisi fisiknya tampak mulai membaik, sang sahabat datang kembali. Kali ini ia membawa jajanan tradisional yang sempat dipesan oleh nya. Pertemuan hari itu berlangsung sangat hangat dan sakral. Sang sahabat langsung sungkem, mencium tangan, serta mengecup pipi kanan dan kiri. Namun, gurat-gurat lesu tidak dapat disembunyikan dari wajahnya.
Melihat kondisi tersebut, sang sahabat sempat membujuk ia agar bersedia pulang dan tinggal sementara waktu di rumah orang tuanya di Pohgading sampai sang bayi berusia setidaknya enam bulan, baru kemudian kembali ke Batuyang. "Kan ada bapaknya nanti yang antarkan anak sekolah. Ini bersifat sementara, biar aku setiap hari bisa menggendong adik bayi ke rumah menjenguk side," bujuknya.
Namun, ia tetap menolak dengan halus karena memikirkan kenyamanan keluarganya. Penolakan itu kembali membawa sang sahabat pulang dengan sejuta pertanyaan yang mengambang di kepala mengenai apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh sang takdir.
Subuh yang Mengguncang Jiwa
Dua minggu setelah canda tawa dan kecupan hangat di pipi itu, garis akhir pun tiba. Pada subuh tanggal 15 Mei, sesaat setelah sang sahabat menyelesaikan ibadah salat subuh dan bersiap untuk mengaji, keheningan pagi mendadak pecah oleh pengeras suara masjid.
Melalui corong menara, sebuah pengumuman duka mengangkasa, menyebutkan bahwa ia telah mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 04.00 pagi.
Dunia seolah runtuh dalam sekejap. Rasa tidak percaya menyergap, mematikan rasa. Bagaimana mungkin sosok yang begitu tulus, yang bersamanya meretas jalan kehidupan, kini telah tiada? Pada pukul 09.00 hingga 11.00 siang itu, sang sahabat datang melayat, duduk bersimpuh menemani dan menguatkan hati ibunda yang hancur kehilangan putri tercintanya.
Namun, ketika prosesi pemakaman tiba, kaki sang sahabat terasa lumpuh. Ia tidak mampu menyaksikan tubuh orang yang teramat dihormatinya itu dimasukkan ke dalam liang lahat. Rasa kehilangan itu terlalu raksasa untuk dihadapi seketika. Even setelah 40 hari berlalu, ia hanya mampu melintasi jalan di dekat makamnya.
Hingga detik ini, kunjungan fisik ke pusara Dy belum mampu dilakukan karena hati yang belum sepenuhnya enak dan siap. Sang sahabat memilih untuk berjalan perlahan, memproses badai duka yang menganga di dada, dan memulihkan diri tanpa paksaan.
Hakikat dari sebuah hubungan sejati tidak pernah diukur dari seberapa cepat atau seberapa sering seseorang berdiri di hadapan batu nisan. Ikatan batin mereka telah terkunci rapat di dalam memori, dalam keputusan untuk tetap hidup dan mengabdi di Lombok Timur sesuai permintaan terakhirnya, dan dalam untaian doa yang terus mengalir pada setiap sujud subuh. Ia kini telah pulang ke tempat peristirahatan terbaik, bebas dari segala rasa lelah dan tekanan dunia, namun seluruh kebaikan dan ketulusannya akan tetap hidup, abadi, dan tidak akan pernah lekang oleh waktu.(HM-1)

